Business Directories
Contact Us

Become a member

Get the best offers and updates relating to Liberty Case News.

Quiet Quitting dan Dampaknya terhadap Produktivitas Ekonomi

Quiet quitting menjadi istilah yang semakin sering terdengar dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah perubahan besar dalam dunia kerja pascapandemi. Fenomena ini menggambarkan kondisi...
HomeEkonomiQuiet Quitting dan Dampaknya terhadap Produktivitas Ekonomi

Quiet Quitting dan Dampaknya terhadap Produktivitas Ekonomi

Quiet quitting menjadi istilah yang semakin sering terdengar dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah perubahan besar dalam dunia kerja pascapandemi. Fenomena ini menggambarkan kondisi ketika karyawan tetap bekerja sesuai kontrak, tetapi tidak lagi memberikan usaha ekstra di luar tugas pokoknya. Meski tidak berarti berhenti bekerja, sikap ini memunculkan kekhawatiran baru bagi perusahaan dan perekonomian secara luas. Di tengah tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, dan perubahan nilai kerja generasi muda, quiet quitting bukan sekadar tren, melainkan sinyal adanya masalah struktural dalam hubungan kerja yang berpotensi memengaruhi produktivitas ekonomi nasional.

Apa Itu Quiet Quitting?

Quiet quitting bukan tentang resign atau mogok kerja. Istilah ini merujuk pada sikap mental karyawan yang memilih bekerja “secukupnya” sesuai deskripsi kerja tanpa ambisi berlebihan.

Perbedaan Quiet Quitting dan Turnover Karyawan

Berbeda dengan turnover yang menyebabkan perusahaan kehilangan tenaga kerja, quiet quitting lebih sulit dideteksi. Karyawan tetap hadir, namun kontribusinya stagnan.

Mengapa Fenomena Ini Muncul?

Beberapa faktor utama yang memicu quiet quitting antara lain:

  • Beban kerja tidak sebanding dengan kompensasi
  • Kurangnya apresiasi dari manajemen
  • Burnout berkepanjangan
  • Ketidakjelasan jenjang karier

Selain itu, tekanan finansial juga memperparah kondisi ini. Ketika karyawan menghadapi masalah pengelolaan keuangan, seperti penggunaan paylater yang tidak terkendali .

Quiet Quitting dalam Perspektif Produktivitas Ekonomi

Produktivitas ekonomi sangat bergantung pada kualitas dan efektivitas tenaga kerja. Quiet quitting menciptakan celah antara jam kerja dan output yang dihasilkan.

Dampak terhadap Produktivitas Perusahaan

Ketika sebagian besar karyawan bekerja tanpa inisiatif:

  • Inovasi melambat
  • Kolaborasi menurun
  • Target bisnis sulit tercapai

Dalam jangka pendek, dampaknya mungkin tidak terlihat. Namun, dalam jangka panjang, perusahaan bisa kehilangan daya saing.

Pengaruh terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Jika fenomena ini meluas, produktivitas nasional ikut terdampak. Produktivitas tenaga kerja yang menurun akan berpengaruh pada:

  • Efisiensi industri
  • Daya saing ekspor
  • Pertumbuhan PDB

Kondisi ini semakin kompleks ketika dikaitkan dengan faktor makroekonomi, seperti fluktuasi nilai tukar rupiah. Hubungan antara nilai tukar rupiah dan ekonomi Indonesia menunjukkan bahwa tekanan ekonomi makro dapat memperburuk ketidakpastian di dunia kerja, sehingga mendorong sikap defensif seperti quiet quitting.

Faktor Ekonomi yang Memperkuat Quiet Quitting

Quiet quitting tidak muncul dalam ruang hampa. Ada faktor ekonomi yang secara tidak langsung mempercepat fenomena ini.

Kenaikan Biaya Hidup dan Tekanan Finansial

Ketika pendapatan tidak naik seiring biaya hidup, karyawan cenderung mempertanyakan makna kerja keras. Mereka memilih menjaga energi daripada mengejar target yang tidak memberikan imbal balik sepadan.

Ketimpangan Upah dan Beban Kerja

Perbedaan antara ekspektasi perusahaan dan realitas di lapangan menciptakan rasa tidak adil. Dalam kondisi ini, quiet quitting menjadi bentuk “perlindungan diri” karyawan.

Dampak Sosial dari Quiet Quitting

Selain ekonomi, quiet quitting juga membawa dampak sosial yang tidak bisa diabaikan.

Perubahan Budaya Kerja

Budaya kerja yang sebelumnya menekankan loyalitas dan lembur mulai bergeser ke arah keseimbangan hidup. Hal ini sebenarnya positif jika dikelola dengan baik.

Hubungan Karyawan dan Perusahaan

Namun, tanpa komunikasi yang sehat, quiet quitting dapat menciptakan jarak emosional antara karyawan dan manajemen, yang pada akhirnya merusak kepercayaan.

Apakah Quiet Quitting Selalu Negatif?

Tidak selalu. Dalam beberapa kasus, quiet quitting justru menjadi tanda kesadaran akan batas diri.

Sisi Positif Quiet Quitting

  • Mencegah burnout
  • Mendorong keseimbangan hidup
  • Membantu karyawan menjaga kesehatan mental

Risiko Jika Tidak Dikelola

Namun, jika dibiarkan tanpa solusi:

  • Kualitas kerja menurun
  • Target ekonomi sulit tercapai
  • Ketimpangan produktivitas meningkat

Strategi Menghadapi Quiet Quitting

Baik perusahaan maupun pembuat kebijakan perlu mengambil peran aktif.

Peran Perusahaan

Perusahaan dapat:

  • Menyusun sistem penghargaan yang adil
  • Memberikan jalur karier yang jelas
  • Menciptakan lingkungan kerja yang suportif

Peran Pemerintah dan Kebijakan Publik

Dari sisi makro, kebijakan ketenagakerjaan dan stabilitas ekonomi sangat berpengaruh. Stabilitas nilai tukar dan inflasi, misalnya, membantu menjaga daya beli dan motivasi kerja.

Tabel Kesimpulan Dampak Quiet Quitting

AspekDampak Jangka PendekDampak Jangka Panjang
ProduktivitasOutput stagnanDaya saing menurun
PerusahaanTarget melesetInovasi terhambat
EkonomiEfisiensi turunPertumbuhan ekonomi melambat
SosialMotivasi rendahPerubahan budaya kerja

Kesimpulan

Quiet quitting adalah refleksi dari perubahan cara pandang terhadap kerja di tengah tekanan ekonomi dan sosial. Fenomena ini tidak bisa disederhanakan sebagai kemalasan, melainkan sinyal bahwa sistem kerja dan ekonomi perlu beradaptasi. Jika dikelola dengan bijak, quiet quitting bisa menjadi momentum untuk membangun budaya kerja yang lebih sehat. Namun, jika diabaikan, dampaknya terhadap produktivitas ekonomi bisa menjadi tantangan serius dalam jangka panjang.

FAQ

1. Apakah quiet quitting sama dengan tidak profesional?

Tidak. Quiet quitting berarti bekerja sesuai kontrak, bukan melanggar aturan atau kewajiban kerja.

2. Apakah quiet quitting berbahaya bagi ekonomi?

Jika terjadi secara masif dan tidak dikelola, quiet quitting dapat menurunkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

3. Bagaimana cara perusahaan mencegah quiet quitting?

Dengan menciptakan lingkungan kerja yang adil, transparan, dan memperhatikan kesejahteraan karyawan.

Index