Upacara Adat Bali Galungan adalah salah satu perayaan keagamaan terbesar bagi masyarakat Hindu di Bali. Galungan dirayakan setiap 210 hari mengikuti kalender Pawukon dan menjadi simbol kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan). Perayaan ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga mencerminkan bagaimana kehidupan di Bali sangat erat dengan tradisi, spiritualitas, serta penghormatan terhadap leluhur.
Galungan menandai datangnya Dewa-Dewa ke bumi untuk memberkati umat manusia. Dalam rangkaian perayaan ini, masyarakat Bali melakukan berbagai kegiatan sakral seperti pemasangan penjor, persembahyangan di pura, serta mempersiapkan sarana upacara. Tradisi ini menunjukan kedekatan budaya Bali dengan alam, spiritualitas, dan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan para leluhur.
Selain itu, perayaan ini juga menjadi momentum berkumpulnya keluarga besar, saling berkunjung, dan memberikan penghormatan kepada orang tua maupun leluhur. Tidak hanya kental secara religius, Galungan juga berdampak sosial, ekonomi, dan budaya dalam kehidupan masyarakat Bali.
Apa Itu Upacara Adat Bali Galungan?
Upacara Adat Bali Galungan adalah perayaan keagamaan umat Hindu Bali yang dilaksanakan setiap 210 hari sekali berdasarkan penanggalan Pawukon. Hari raya ini diperingati sebagai momentum spiritual untuk memperkuat keteguhan hati dalam melawan sifat-sifat buruk dan menegakkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada momen Galungan, desa-desa di Bali dipenuhi hiasan penjor, bau dupa, suara gamelan, dan aktivitas adat yang mencerminkan harmonisasi antara manusia, alam, dan Tuhan.
Makna Filosofis Upacara Galungan
- Kemenangan Dharma atas Adharma
Ini adalah makna utama perayaan Galungan, yaitu kemenangan kebaikan atas kejahatan. - Kehadiran Leluhur (Pitara)
Diyakini bahwa leluhur turun untuk memberikan berkah kepada keturunannya. - Penguatan Spiritual
Umat Hindu kembali memperbaiki diri, membersihkan pikiran, dan mensucikan hidup. - Harmoni Tri Hita Karana
Melestarikan hubungan seimbang antara manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia.
Prosesi Upacara Galungan dari Hari ke Hari
Perayaan Galungan tidak hanya berlangsung satu hari, tetapi dimulai dari tiga hari sebelum hingga dua hari setelah Galungan.
1. Penyekeban (3 Hari Sebelum Galungan)
Hari ketika masyarakat mulai menyimpan buah-buahan untuk keperluan persembahan.
2. Penyajaan (2 Hari Sebelum Galungan)
Mempersiapkan aneka panganan sakral seperti jajan pasar dan jajanan tradisional.
3. Penampahan (1 Hari Sebelum Galungan)
Keluarga mempersiapkan bahan makanan persembahan, termasuk pembuatan lawar dan sate.
4. Hari Raya Galungan
Hari puncak perayaan. Umat mengenakan pakaian adat terbaik, membawa canang sari, banten, dan melakukan persembahyangan ke pura-pura luhur di bali atau pura keluarga dan desa.
5. Manis Galungan
Hari kedua setelah Galungan. Biasanya digunakan untuk bersilaturahmi, rekreasi, dan mengunjungi keluarga.
Penjor: Ikon Utama Perayaan Galungan
Setiap rumah memasang penjor, sebuah bambu panjang melengkung dengan hiasan janur, hasil bumi, serta kain suci.
Penjor melambangkan:
- Gunung tempat bersemayamnya para dewa
- Kemakmuran dan rasa syukur
- Kesederhanaan dan ketulusan manusia kepada Tuhan
Penjor juga menjadi daya tarik wisata yang membuat Bali tampak semakin sakral dan indah saat Galungan berlangsung.
@balinewsweek.id hari galungan di Bali emang selalu bikin beda gasi #bali #balilife #livinginbali #galungan ♬ suara asli – balinewsweek
Tradisi Lain yang Dilakukan Saat Galungan
- Membuat banten (sesajen)
- Ngaturang pemendak, persembahyangan menyambut leluhur
- Mengunjungi pura keluarga
- Mempersiapkan hidangan tradisional
- Membersihkan rumah dan lingkungan
Semua tradisi dilakukan untuk menciptakan suasana suci dan penuh berkah.
Tabel Ringkas Prosesi Upacara Galungan
| Hari | Nama Prosesi | Makna Utama |
| H-3 | Penyekeban | Persiapan bahan persembahan |
| H-2 | Penyajaan | Penyajian dan pembuatan jajanan persembahan |
| H-1 | Penampahan | Penyembelihan hewan dan pembuatan lawar |
| Hari H | Galungan | Perayaan kemenangan Dharma |
| H+1 | Manis Galungan | Silaturahmi dan rekreasi |
Mengapa Upacara Galungan Penting bagi Masyarakat Bali?
- Melestarikan budaya dan tradisi leluhur
- Mengokohkan nilai spiritual dalam kehidupan modern
- Mengajarkan kesadaran moral dan etika
- Mewujudkan kebersamaan dalam keluarga dan masyarakat
- Menjadi daya tarik wisata budaya Bali
Kesimpulan
Upacara Adat Bali Galungan adalah perayaan sakral yang mengajarkan tentang kebaikan, keseimbangan hidup, rasa syukur, dan penghormatan terhadap leluhur. Melalui prosesi suci, penjor, dan rangkaian persembahan, masyarakat Bali menjaga keselarasan spiritual dan budaya leluhur yang diwariskan turun-temurun. Selain memiliki makna religius, Galungan turut memperkuat hubungan keluarga dan menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkaya identitas Bali.
FAQ Tentang Upacara Adat Bali Galungan
Galungan dirayakan setiap 210 hari berdasarkan kalender Bali (Pawukon).
Makna utamanya adalah kemenangan Dharma atas Adharma.
Karena penjor melambangkan gunung suci, kemakmuran, dan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi.
Umat Hindu di Bali dan masyarakat Hindu di Indonesia.
Tidak. Kuningan dirayakan 10 hari setelah Galungan sebagai penutup rangkaian persembahan kepada leluhur.

