Site icon balinewsweek.id

5 Sawah Terasering Terbaik di Bali: Pesona Budaya Subak & Tips Berkunjung

Sawah Terasering di bali

Sawah Terasering di bali

Bali tidak hanya terkenal dengan pantainya yang eksotis, pemandangan yang menakjubkan dan juga budaya spiritualnya. Lebih dari itu, pulau ini juga bisa menyimpan keindahan alam yang luar biasa melalui sawah terasering di bali. Hamparan hijau yang tersusun rapi perbukitan di bali bukan hanya berfungsi sebagai lahan pertanian, tetapi juga menjadi karya seni alam yang memanjakan mata setiap wisatawan.

Selain itu, sawah terasering mampu merefleksikan kearifan masyarakat lokal yang sangat menghargai keseimbangan antara manusia, alam, dan tuhan. Inilah yang dikenal dengan filosofi Tri Hita Karana, konsep kehidupan harmonis yang menjadi dasar kehidupan masyarakat bali hingga kini

Makna dan sejarah sawah terasering

Sawah terasering di bali bukan hanya hasil kerja keras petani, tetapi juga wujud dari sistem irigasi tradisional bernama ‘’subak’’ yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia sejak tahun 2012

Sistem ini mengatur distribusi air dengan adil di antara petani melalui jaringan kanal alami. Menariknya, sistem subak tidak hanya berfokus pada efisiensi pertanian, tetapi juga menjaga kelestarian ekosistem. Oleh karena itu, tak heran jika sawah-sawah ini tetap hijau dan subur sepanjang tahunnya. Struktur berunduk dari terasering menciptakan pola visual yang memukau, terutama saat matahari terbit atau terbenam. Banyak fotografer dan wisatawan datang hanya untuk menangkap momen magis ini

Daftar Sawah Terasering Paling Ikonik di Bali

1. Tegalalang Rice Terrace (Ubud)

Paling populer dan mudah diakses. Tegalalang terkenal dengan lekukan sawahnya yang sangat curam dan dramatis.

2. Jatiluwih Rice Terrace (Tabanan)

Jika Tegalalang adalah yang tercantik, Jatiluwih adalah yang termegah. Terletak di kaki Gunung Batukaru, luasnya mencapai 600 hektar.

3. Sawah Terasering Pupuan (Tabanan)

Cocok bagi Anda yang ingin menghindari keramaian turis. Jalurnya berliku dengan pemandangan kebun kopi dan cokelat di sela-sela sawah.

Perbandingan: Tegalalang vs Jatiluwih

FiturTegalalangJatiluwih
SuasanaRamai, Trendy, Padat.Luas, Tenang, Tradisional.
AksesibilitasDekat pusat Ubud (20 menit).Jauh dari pusat kota (1.5 jam dari Canggu).
Biaya MasukRp15.000 – Rp25.000Rp40.000 – Rp50.000
Cocok UntukFoto Instagram & Singgah Sebentar.Nature Lovers & Pecinta Budaya.

Mengenal Subak: Filosofi di Balik Keindahan

Terasering Bali bukan sekadar estetika pertanian. Keberadaannya bergantung pada sistem Subak, yaitu organisasi kemasyarakatan yang mengatur pembagian air secara adil antar petani. Sistem ini menerapkan filosofi Tri Hita Karana, yaitu menjaga hubungan harmonis antara:

  1. Parahyangan: Manusia dengan Tuhan (melalui ritual di pura air).
  2. Pawongan: Manusia dengan sesama (gotong royong antar petani).
  3. Palemahan: Manusia dengan alam (menjaga kelestarian air dan tanah).

Tips Berkunjung Agar Pengalaman Maksimal

  1. Datang Sepagi Mungkin: Untuk menghindari kerumunan bus pariwisata dan panas terik, datanglah pukul 07.00 – 08.30 WITA. Cahaya matahari pagi juga sangat bagus untuk fotografi (golden hour).
  2. Cek Musim Tanam: Pemandangan terbaik adalah saat padi berwarna hijau royo-royo (sebelum panen) atau saat sawah tergenang air (setelah panen) yang memantulkan langit seperti cermin.
  3. Gunakan Sepatu yang Nyaman: Jalur di pematang sawah bisa sangat licin dan berlumpur, terutama setelah hujan.
  4. Siapkan Uang Tunai: Beberapa jalur masuk ke dalam sawah di Tegalalang dikelola secara swadaya oleh petani lokal yang biasanya meminta donasi sukarela.

Mengapa sawah terasering di bali begitu istimewa 

Berbeda dengan sawah datar pada umumnya, sawah terasering di bali memiliki nilai budaya, spiritual, dan ekologis yang tinggi. Di satu sisi, sistem pertanian ini menjaga keberlanjutan alam. Namun di sisi lain, ia juga menjaga simbol keharmonisan hidup masyarakat bali dengan lingkungannya. 

Lebih dari sekedar objek wisata, terasering adalah cerminan hubungan destinasi wisata alam yang selaras. Dengan demikian, kindahannya bukan hanya visual saja, tetapi juga filosofis setiap lapisan tanahnya menyimpan cerita tentang ketekunan, kesabaran, dan penghormatan terhadap bumi.

Kesimpulan 

Sawah terasering di bali adalah bukti nyata bagaimana manusia dapat hidup selaras dengan alam. Dari tegalalang hingga jatiluwih, setiap petak sawah menghadirkan keindahan yang menenangkan sekaligus mengajarkan makna harmoni

Dengan mengunjungi tempat ini. Anda tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga ikut melestarikan warisan budaya bali yang sudah mendunia. Maka, jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan langsung keajaiban hijau ini dalam perjalanan anda ke pulau dewata

FAQ: Pertanyaan Seputar Sawah Terasering di Bali

1: Apa waktu terbaik untuk mengunjungi sawah terasering di Bali?

Waktu terbaik adalah antara April hingga September, saat padi sedang menghijau dan cuaca cerah. Namun, jika ingin melihat panen, datanglah pada bulan Oktober hingga November.

2: Apakah wisatawan boleh masuk dan berjalan di area sawah?

Ya, tetapi tetap hormati area pertanian dan ikuti jalur yang sudah disediakan agar tidak merusak tanaman.

3: Apakah ada fasilitas wisata di sekitar sawah terasering?

Tentu! Di sekitar area populer seperti Tegalalang dan Jatiluwih, tersedia restoran, kafe, serta tempat menginap dengan pemandangan sawah yang menenangkan.

4: Mengapa sistem Subak penting bagi Bali?

Karena sistem ini tidak hanya memastikan air mengalir adil ke semua petani, tetapi juga menjaga keseimbangan spiritual, sosial, dan lingkungan sesuai filosofi Tri Hita Karana.

Exit mobile version