Memahami cara memakai pakaian adat bali bukan sekadar tentang estetika penampilan, melainkan bentuk penghormatan mendalam terhadap budaya dan kesucian tempat yang dikunjungi. Di tahun 2026, meskipun tren fashion terus berkembang, tata cara memakai pakaian adat bali tetap mengikuti pakem leluhur yang sarat akan makna simbolis. Bagi masyarakat Bali, berbusana adat adalah cara untuk memposisikan diri di hadapan Sang Pencipta dan masyarakat sekitar dengan rapi, sopan, dan rendah hati. Setiap elemen busana, mulai dari ikatan kepala (udeng) bagi pria hingga selendang (senteng) bagi wanita, memiliki filosofi tertentu yang berkaitan dengan pengendalian diri dan pembersihan jiwa. Baik Anda seorang wisatawan yang ingin mengikuti upacara keagamaan atau penduduk lokal yang ingin memastikan detail busananya sudah tepat, panduan ini akan menjelaskan langkah-langkah praktis secara sistematis.
Dengan memakai busana yang benar, Anda tidak hanya terlihat anggun atau gagah secara visual, tetapi juga menunjukkan integritas budaya yang tinggi. Mari kita bedah satu per satu komponen utama dan urutan pemakaian yang benar agar Anda dapat tampil percaya diri saat menghadiri acara adat maupun ritual di Pulau Dewata.
Mengenal Filosofi di Balik Busana Bali
Pakaian adat Bali terbagi menjadi beberapa tingkatan, mulai dari Payas Agung (untuk pernikahan), Payas Madya (untuk sembahyang harian), hingga Payas Alit (untuk kegiatan sosial). Namun, inti dari semua jenis busana ini adalah penutupan bagian tubuh bawah dan penggunaan ikat pinggang sebagai simbol pembatas antara sifat hewani (bagian bawah) dan sifat ketuhanan (bagian atas).
Penggunaan warna juga memegang peranan penting. Warna putih biasanya digunakan untuk upacara keagamaan sebagai simbol kesucian, sedangkan warna kuning sering diasosiasikan dengan hari raya tertentu. Memahami aturan dasar ini akan memudahkan Anda saat mempraktikkan cara memakai pakaian adat bali sesuai dengan konteks acaranya.
1. Tata Cara Berbusana untuk Pria: Langkah demi Langkah
Bagi pria, busana adat menonjolkan kesan maskulin yang rapi namun tetap rendah hati. Komponen utamanya terdiri dari Udeng (ikat kepala), baju atasan (biasanya safari atau kemeja putih), Kamen (kain bawahan), dan Kampuh atau Saput (kain pelapis luar).
Langkah pertama dalam memilih pakaian bali yang tepat adalah memastikan kualitas kain kamen yang nyaman digunakan untuk duduk bersila. Berikut adalah urutan pemakaiannya:
- Memakai Kamen: Kain dililitkan dari kiri ke kanan. Pastikan ada sisa kain di bagian depan yang membentuk lipatan menjuntai ke bawah (disebut kancut). Lipatan ini melambangkan penghormatan kepada tanah air.
- Memakai Saput: Kain pelapis ini dililitkan di atas kamen dengan posisi lebih tinggi (di atas lutut).
- Mengenakan Sabuk: Ikat pinggang digunakan untuk mengunci kamen dan saput agar tidak melorot.
- Memakai Udeng: Pastikan simpul udeng berada tepat di tengah dahi dan mengarah ke atas sebagai simbol pemusatan pikiran kepada Tuhan.
2. Tata Cara Berbusana untuk Wanita: Anggun dan Beretika
Busana wanita Bali dikenal sangat estetis dengan perpaduan kebaya, kamen, dan selendang. Berbeda dengan pria, cara melilitkan kain kamen pada wanita dilakukan dari kanan ke kiri. Hal ini melambangkan konsep feminitas dan keseimbangan energi.
Penting untuk diingat bahwa setiap elemen busana ini mencerminkan Filosofi Tri Hita Karana, di mana keharmonisan antara manusia dengan Tuhan diwujudkan melalui kerapian saat beribadah. Berikut adalah panduan detailnya:
- Kamen Wanita: Dililitkan secara kencang tanpa lipatan menjuntai seperti pria. Pastikan panjangnya mencapai mata kaki agar terlihat sopan saat berjalan.
- Kebaya: Pilih kebaya yang tidak terlalu ketat dan menutupi bahu serta lengan dengan baik, terutama jika hendak masuk ke area utama pura.
- Selendang (Senteng): Ini adalah komponen paling wajib. Selendang diikatkan di luar kebaya pada bagian pinggang. Simpul selendang biasanya diletakkan di samping kiri. Fungsinya adalah sebagai pengikat nafsu dan simbol kesiapan diri untuk memasuki area suci.
- Tatanan Rambut: Untuk sembahyang, rambut sebaiknya diikat rapi atau disanggul. Hindari membiarkan rambut terurai berantakan sebagai bentuk etika kesopanan.
Tabel: Perbedaan Cara Memakai Pakaian Adat Pria vs Wanita
| Komponen | Pria Bali | Wanita Bali |
| Arah Lilitan Kain | Kiri ke Kanan | Kanan ke Kiri |
| Hiasan Kepala | Udeng (Wajib) | Sanggul/Rambut Rapi (Bunga Jepun) |
| Aksesori Wajib | Saput / Kampuh | Selendang (Senteng) |
| Simbolisme Bagian Depan | Ada Kancut (menjuntai ke tanah) | Rapi dan tertutup hingga mata kaki |
| Jenis Atasan | Baju Safari atau Kemeja | Kebaya |
3. Kesalahan Umum Saat Mengenakan Busana Bali
Meskipun terlihat mudah, banyak pemula yang sering melakukan kesalahan saat mempraktikkan cara memakai pakaian adat bali. Kesalahan paling umum adalah membiarkan bagian perut terlihat atau memakai kamen yang terlalu pendek di atas lutut saat masuk ke pura.
Berikut adalah beberapa hal yang harus dihindari:
- Selendang Tertutup Baju: Pastikan selendang tetap terlihat di luar kebaya atau baju, karena selendang adalah simbol “penyengker” atau pembatas.
- Udeng Miring: Simpul udeng yang tidak lurus di tengah dapat dianggap kurang rapi dan tidak fokus secara spiritual.
- Kamen Terlalu Tinggi: Baik pria maupun wanita harus memastikan kain menutupi hingga area betis atau mata kaki.
- Warna yang Tidak Sesuai: Menghadiri upacara kematian (Ngaben) biasanya menggunakan warna gelap, sedangkan ke pura menggunakan warna cerah/putih. Jangan tertukar.
4. Etika Masuk Pura dan Penggunaan Perhiasan
Pakaian adat hanyalah pintu masuk. Etika perilaku di dalam pura juga menjadi bagian dari keseluruhan busana Anda. Wanita yang sedang datang bulan dilarang keras memasuki area suci meskipun sudah memakai pakaian adat lengkap. Ini adalah aturan adat yang sangat dihormati.
Selain itu, penggunaan perhiasan sebaiknya tidak berlebihan. Bagi wanita, sepasang anting (subeng) dan bunga kamboja (jepun) di telinga kanan sudah cukup untuk menambah keanggunan. Bagi pria, membawa keris biasanya hanya dilakukan pada upacara-upacara besar seperti pernikahan atau pawai budaya tertentu. Fokus utama tetap pada kerapian dan ketulusan hati.
5. Menjaga Keaslian Budaya di Tengah Modernisasi
Meskipun saat ini banyak tersedia kebaya modern dengan potongan yang modis, inti dari cara memakai pakaian adat bali adalah kesantunan. Generasi muda Bali saat ini mulai mempopulerkan kembali penggunaan kain tenun tradisional seperti Endek dan Songket dalam busana harian mereka.
Dukungan pemerintah daerah dalam mewajibkan pakaian adat pada hari-hari tertentu (seperti hari Kamis atau hari Purnama) membantu melestarikan industri lokal sekaligus menjaga identitas bangsa. Dengan memakai pakaian adat, kita sedang membawa pesan bahwa identitas budaya adalah aset yang tak ternilai harganya di mata dunia.
Daftar Checklist Berbusana Bali yang Benar
- [ ] Kamen: Sudah menutupi kaki hingga batas minimal (betis/mata kaki).
- [ ] Selendang: Terikat kuat di pinggang dengan simpul yang rapi.
- [ ] Atasan: Baju bersih, rapi, dan memiliki kerah (untuk safari pria).
- [ ] Udeng (Pria): Terpasang tegak dan simpul berada di tengah dahi.
- [ ] Rambut (Wanita): Tertata rapi, tidak menutupi wajah saat menunduk sembahyang.
- [ ] Alas Kaki: Gunakan sandal atau sepatu yang mudah dilepas-pasang karena masuk ke area dalam pura wajib tanpa alas kaki.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, cara memakai pakaian adat bali adalah perpaduan antara seni, disiplin, dan spiritualitas. Setiap lipatan kain dan setiap simpul selendang mengandung doa dan harapan untuk kehidupan yang lebih harmonis. Dengan mengikuti panduan di atas, Anda tidak hanya tampil memukau secara visual, tetapi juga menunjukkan rasa hormat yang tinggi terhadap tradisi yang telah dijaga selama berabad-abad.
Ingatlah bahwa yang terpenting bukan seberapa mahal kain yang Anda gunakan, melainkan seberapa tulus Anda mengenakannya untuk tujuan yang mulia. Bali akan selalu terbuka bagi siapa saja yang datang dengan niat baik dan menghargai adat istiadatnya. Selamat mencoba dan rasakan sendiri kedamaian yang terpancar saat Anda mengenakan busana tradisional Pulau Dewata yang sakral ini.
FAQ: Pertanyaan Populer Tentang Pakaian Adat Bali
Bagi pria, sangat disarankan menggunakan udeng sebagai bentuk penghormatan. Namun, minimal harus menggunakan kamen dan selendang pinggang.
Sangat tidak disarankan. Untuk masuk ke pura, wanita wajib menggunakan kain (kamen). Jika hanya mengunjungi area luar wisata, kain sarung penutup biasanya disediakan oleh pengelola.
Secara bahan seringkali sama, namun cara pakainya berbeda (arah lilitan) dan pria biasanya menggunakan tambahan kain luar (saput).
Warna putih melambangkan kesucian dan kejernihan pikiran, yang dianggap sangat cocok untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta di pura

